
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Jawa Barat menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan dan memeratakan cakupan imunisasi di seluruh wilayah provinsi, termasuk di Kabupaten dan Kota Cirebon. Langkah ini dianggap sangat krusial demi menjamin hak dasar setiap anak atas kesehatan serta melindungi mereka dari ancaman penyakit berbahaya yang sebenarnya dapat dicegah.
Ketua IDAI Cabang Jawa Barat, Anggraini Alam, saat memberikan keterangan di Cirebon pada Minggu, menyatakan bahwa imunisasi adalah hak mutlak yang dimiliki oleh setiap anak, dan menjadi tanggung jawab serta kewajiban bagi seluruh elemen dewasa di sekitarnya untuk memastikan hak tersebut terpenuhi. Menurutnya, imunisasi merupakan langkah perlindungan paling efektif agar anak dapat tumbuh kembang dengan sehat, terhindar dari berbagai jenis penyakit, komplikasi serius, hingga risiko kematian dini.
“Anak-anak Indonesia, tentu kita menginginkan agar kesehatan anak menjadi prioritas utama. Imunisasi adalah hak untuk anak, namun hal ini merupakan kewajiban dari kita semua untuk memastikannya terlaksana,” ujar Anggraini.
Meski capaian cakupan imunisasi terus berjalan, Anggraini menilai angka yang ada saat ini masih perlu terus ditingkatkan. Lebih dari sekadar angka tinggi, pemerataan menjadi kunci utama agar perlindungan kesehatan ini dapat dinikmati oleh seluruh anak di pelosok daerah, tanpa terkecuali. Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada satu pun wilayah di Jawa Barat yang memiliki cakupan imunisasi rendah, karena kondisi tersebut berpotensi menciptakan kelompok masyarakat yang rentan dan memicu penyebaran penyakit yang seharusnya bisa dihindari.
“Sama dengan apa yang telah disampaikan sebelumnya, kita masih harus bekerja keras agar cakupannya lebih tinggi lagi dan lebih merata. Tidak boleh ada daerah-daerah yang mengalami cakupan rendah, karena hal itu akan menjadi titik rawan bagi munculnya penyakit menular,” tegasnya.
Selain pemerataan layanan, isu yang juga menjadi sorotan serius IDAI adalah keberadaan anak-anak yang masuk dalam kategori zero-dose, yaitu anak-anak yang sama sekali belum mendapatkan pemberian imunisasi dasar sesuai dengan usianya. Kondisi ini dinilai sangat berbahaya dan memprihatinkan karena selain membahayakan nyawa anak tersebut, juga meningkatkan risiko meluasnya penularan penyakit ke lingkungan sekitar.
“Zero-dose artinya anak tersebut belum mendapatkan imunisasi apa pun sesuai usianya, dan itu kondisi yang buruk. Oleh karena itu, semuanya harus bekerja keras agar kasus seperti ini dapat dihapuskan,” ungkapnya.
Anggraini menekankan bahwa upaya meningkatkan cakupan imunisasi tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri atau hanya oleh satu pihak saja. Diperlukan kerja sama yang solid dan sinergi erat antara berbagai pihak, mulai dari IDAI sebagai tenaga profesional kesehatan, pemerintah pusat maupun daerah, para tenaga kesehatan di lapangan, hingga dukungan aktif dari masyarakat luas.
Selain itu, peran media massa juga dianggap sangat strategis dan memiliki pengaruh besar dalam membentuk kesadaran publik. Anggraini meminta agar media terus konsisten menyebarkan informasi yang benar, edukatif, dan meyakinkan masyarakat mengenai manfaat imunisasi. Hal ini penting untuk meluruskan berbagai informasi keliru yang sering beredar serta menghilangkan keraguan atau ketakutan yang tidak berdasar di kalangan orang tua.
“Media itu perannya sangat besar dalam hal ini. Kami mohon agar terus-menerus menginformasikan hal-hal positif dan benar mengenai pentingnya melengkapi imunisasi anak. Jangan takut imunisasi, jangan ragu imunisasi. Karena pada dasarnya, imunisasi itu dibuat untuk menjaga dan membuat anak tetap sehat,” pungkas Anggraini Alam.